Sabtu, 04 April 2015

Rute pemberian obat & tujuannya



Cara pemberian obat serta tujuan penggunaannya adalah sebagai berikut:
a.     Oral

Obat yang cara penggunaannya masuk melalui mulut.

 







Keuntungannya relatif aman, praktis, ekonomis. Kerugiannya timbul efek lambat; tidak bermanfaat untuk pasien yang sering muntah, diare, tidak sadar, tidak kooperatif; untuk obat iritatif dan rasa tidak enak penggunaannya terbatas; obat yang inaktif/terurai oleh cairan lambung/ usus tidak bermanfaat (penisilin G, insulin); obat absorpsi tidak teratur. Untuk tujuan terapi serta efek sistematik yang dikehendaki, penggunaan oral adalah yang paling menyenangkan dan murah, serta umumnya paling aman. Hanya beberapa obat yang mengalami perusakan oleh cairan lambung atau usus. Pada keadaan pasien muntah-muntah,koma, atau dikehendaki onset yang cepat, penggunaan obat melalui oral tidak dapat dipakai.
 

b.     Sublingual

 







Cara penggunaannya, obat ditaruh dibawah lidah. Tujuannya supaya efeknya lebih cepat karena pembuluh darah bawah lidah merupakan pusat sakit. Misalnya pada kasus pasien jantung. Keuntungan cara ini efek obat cepat serta kerusakan obat di saluran cerna dan metabolisme di dinding usus dan hati dapat dihindari (tidak lewat vena porta).

c.     Inhalasi










Penggunaannya dengan cara disemprot (ke mulut). Misal obat asma. Keuntungannya yaitu absorpsi terjadi cepat dan homogen, kadar obat dapat dikontrol, terhindar dari efek lintas pertama, dapat diberikan langsung pada bronkus. Kerugiannya yaitu, diperlukan alat dan metode khusus, sukar mengatur dosis, sering mengiritasi epitel paru – sekresi saluran nafas, toksisitas pada jantung. Dalam inhalasi, obat dalam keadaan gas atau uap yang akan diabsorpsi sangat cepat melalui alveoli paru-paru dan membran mukosa pada perjalanan pernafasan.

d.     Rektal










Cara penggunaannya melalui dubur atau anus. Tujuannya mempercepat kerja obat serta sifatnya lokal dan sistemik. Obat oral sulit/tidak dapat dilakukan karena iritasi lambung, terurai di lambung, terjadi efek lintas pertama. Contoh, asetosal, parasetamol, indometasin, teofilin, barbiturat.

e.     Pervagina

 





Bentuknya hampir sama dengan obat rektal, dimasukkan ke vagina, langsung ke pusat sasar. Misal untuk keputihan atau jamur.



f.       Parentral

 







Digunakan tanpa melalui mulut, atau dapat dikatakan obat dimasukkan de dalam tubuh selain saluran cerna. Tujuannya tanpa melalui saluran pencernaan dan langsung ke pembuluh darah. Misal suntikan atau insulin. Efeknya biar langsung sampai sasaran. Keuntungannya yaitu dapat untuk pasien yang tidak sadar, sering muntah, diare, yang sulit menelan/pasien yang tidak kooperatif; dapat untuk obat yang mengiritasi lambung; dapat menghindari kerusakan obat di saluran cerna dan hati; bekerja cepat dan dosis ekonomis. Kelemahannya yaitu kurang aman, tidak disukai pasien, berbahaya (suntikan – infeksi). Istilah injeksi termasuk semua bentuk obat yang digunakan secara parentral, termasuk infus. Injeksi dapat berupa larutan, suspensi, atau emulsi. Apabila obatnya tidak stabil dalam cairan, maka dibuat dalam bentuk kering. Bila mau dipakai baru ditambah aqua steril untuk memperoleh larutan atau suspensi injeksi.

g.     Topikal/lokal
 






Obat yang sifatnya lokal. Misal tetes mata, tetes telinga, salep,krim.


Penetapan Kadar Fenilpropanolamin HCL dan CTM dengan Spektrofotometri UV-Vis



BAB I
PENDAHULUAN

Infulenza merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh virus yang dapat hidup dalam tubuh Obat antiinfluenza sering dikombinasi dengan antihistamin untuk meningkatkan potensi dan kegunaannya. Salah satu contohnya adalah kombinasi fenilpropanolamin hidroklorida dan klorfeniramin maleat. Fenilpropanolamin hidroksida adalah golongan obat adregernik yang jika dibandingkan dengan efedrin, durasi kerjanya lebih panjang, efek sentral dan efek terhadap jantung jauh lebih rendah. Fenilpropanolamin hidroklorida digunakan sebagai dekongestan hidung. Sementara itu, klorfeniramin maleat adalah senyawa antihistamin, yaitu zat-zat yang dapat mengurangi atau menghalangi efek histamine.
Dalam pengawasan mutu, perlu adanya control kualitatif dan kuantitatif zat berkhasiat dalam obat. Fenilpropanolamin hidroklorida dan klorfeniramin maleat dalam bentuk bahan baku maupun dalam sediaan tablet masing-masing dapat ditentukan kadarnya secara titrasi bebas air, sedangkan penetapan kadar campuran fenilpropanolamin hidroklorida dan klorfeniramin maleat dalam sediaan kapsul dilakukan secara HPLC.
Fenilrpopanolamin hidroklorida dan klorfeniramin maleat dalam struktur kimianya memiliki gugus kromofor sehingga keduanya memiliki serapan pada daerah UV.






            Serapan maksimum klorfeniramin maleat dalam pelarut asam terjadi pada panjang gelombang 265 nm, sedangkan untuk fenilpropanilamin hidroklorida dengan panjang gelombang 251, 257, 263 nm.


BAB II
ISI
A.    TUJUAN
Mahasiswa dapat melakukan dan menjelaskan :
1.         metode spektrofotometri UV-Vis
2.         tahapan pengukuran analisis
3.         mengetahui komponen spektro
4.         fungsi masing-masing komponen instrument spektrofotometri UV-Vis
5.         penetapan kadar fenilpro dan CTM dengan spektrofotometri UV-Vis
6.         validasi metode dan kalibrasi alat instrument
7.         pengolahan data dan menyimpulkan hasil percobaan

B.     PINSIP DASAR METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis
     Pengukuran molekul melalui ekstasi electron dari keadaan energy dasar ke keadaan energy tereksitasi dengan adanya energy (E) atau panjang gelombang (l) yang sesuai. Energy yang berasal dari sumber radiasi Lampu Tungsten untuk UV-Vis. Dengan daerah pengukuran panjang gelombang 220 – 280 nm untuk spektrofotometri UV-Vis guna menentukan panjang gelombang maksimum yang memberikan serapan maksimum fenilpropanolamin HCl dan klorfeniramin maleat.
C.     BAHAN
1.      Fenilpropanolamin HCl
2.      Chlorpheniramine maleat
3.      HCl 0.1N sebagai pelarut

D.    ALAT
1.      Spektrofotometer UV-VIS
2.      Kuvet
3.      Labu ukur 100 ml
4.      Labu uku 25 ml
5.      Pipet volume 4 ml, 8ml, 10ml, 25 ml

E.     PROSEDUR
Pembuatan larutan verifikasi
1.      Pembuatan larutan baku kerja fenilpropanolamin HCl
a.          Timbang 200 mg fenilpropanolamin HCl ke dalam labu ukur 100 ml. tambahkan HCl 0,1 N ad garis tanda, lalu kocok ad larut. >> BI-FP 2000 ppm
b.         Isikan ke dalam masing-masing 5 labu ukur 25,0 ml berurutan
-          1,0 ml lar. BI-FP ditambah HCl 0,1 N ad garis tanda (80 ppm)
-          2,0 ml lar. BI-FP ditambah HCl 0,1 N ad garis tanda (160 ppm)
-          3,0 ml lar. BI-FP ditambah HCl 0,1 N ad garis tanda (240 ppm)
-          4,0 ml lar. BI-FP ditambah HCl 0,1 N ad garis tanda (320 ppm)
-          5,0 ml lar. BI-FP ditambah HCl 0,1 N ad garis tanda (400 ppm)
2.      Pembuatan larutan baku induk klorfeniramin Maleat
a.       Timbang 24 mg klorfeniramin maleat ke dalam labu ukur 100 ml. tambahkan HCl 0,1 N ad garis tanda, lalu kocok ad larut. >> BI-CTM 240 ppm
b.      Isikan ke dalam masing-masing 5 labu ukur 25,0 ml berurutan
-                1,0 ml lar. BI-CTM ditambah HCl 0,1 N ad garis tanda (9,60 ppm)
-                2,0 ml lar. BI-CTM ditambah HCl 0,1 N ad garis tanda (19,2 ppm)
-                3,0 ml lar. BI-CTM ditambah HCl 0,1 N ad garis tanda (28,8 ppm)
-                4,0 ml lar. BI-CTM ditambah HCl 0,1 N ad garis tanda (38,3 ppm)
-                5,0 ml lar. BI-CTM ditambah HCl 0,1 N ad garis tanda (48,0 ppm)
3.   Sampel ditimbang setara dengan 15mg fenilpropanolamin HCl dan 2 mg CTM, kemudian di ad-kan ke dalam labu ukur 25,0 ml lalu disaring. Filtrat di pipet 4ml lalu  di adkan 10ml.
4.      Ukur serapan atau absorban salah satu larutan baku fenilpropanolamin HCl dan larutan baku CTM dengan kuvet 1 cm untuk menentukan (l maks). Kedua kurva di overlay sehingga diperoleh l perpotongan antara kedua kurva.
5.      Ukur serapan / absorban larutan baku fenilpropanolamin HCl dan larutan baku CTM pada 3 l yang telah ditentukan.
6.      Hitung

F.      HITUNG
l (nm)
Fenilpropanolamin hidroklorida (adisi baku)
Klorfeniramin maleat





256,7
                  y = 8,4382.10-3 +  1,6473. 10-3 x
         y = -2,2880.10-3 + 0,0389 x

                  r = 0,9999
         r = 0,9999



262,6
                  y = 0,0277 + 1,5569.10-3 x
        y = 0,0281 + 0,0366 x

                  r = 0,9998
        r = 0,9997








Dari data table hasil persamaan garis regresi dan koefisien korelasi analit yaitu :
absorban
Fenilpropanolamin HCl
BK-FP 1    àl 256,7 ;  y = 8,4382.10-3 + 1,6437.10-3 x 80 ppm = 0,1340
                     l 262,6 ; y = 0,0277 + 1,5569.10-3 x 80 ppm = 0,1522
BK-FP 2 à l 256,7 ; y = 8,4382.10-3 + 1,6437.10-3 x 160 ppm = 0,2714
                     l 262,6 ; y = 0,0277 + 1,5569.10-3 x 160 ppm = 0,2575
BK-FP 3 à l 256,7 ; y = 8,4382.10-3 + 1,6437.10-3 x 240 ppm = 0,4029
                     l 262,6 ; y = 0,0277 + 1,5569.10-3 x 240 ppm = 0,4013
BK-FP 4 à l 256,7 ; y = 8,4382.10-3 + 1,6437.10-3 x   320 ppm =0,5344
                     l 262,6 ; y = 0,0277 + 1,5569.10-3 x 320 ppm = 0,5259
BK-FP 5 à l 256,7 ; y = 8,4382.10-3 + 1,6437.10-3 x 400 ppm = 0,6659
                     l 262,6 ; y = 0,0277 + 1,5569.10-3 x 400 ppm = 0,6504


Baku klorfeniramin maleat
BK-CTM 1 à l 256,7 ; y = -2,2880.10-3 + 0,0389 x 9,6 ppm = 0,3140
                        l 262,6 ; y = 0,0281 + 0,00366 x 0,96  ppm = 0,0316
BK-CTM 2 àl 256,7 ; y = -2,2880.10-3 + 0,0389 x 19,2  ppm = 0,0724
                        l 262,6 ; y = 0,0281 + 0,00366 x 1,92 ppm = 0,0351
      BK-CTM 3 à l 256,7 ; y = -2,2880.10-3 + 0,0389 x 2,88 ppm = 0,1097
                        l 262,6 ; y = 0,0281 + 0,00366 x 2,88 ppm = 0,0386
BK-CTM 4 à l 256,7 ; y = -2,2880.10-3 + 0,0389 x 3,83 ppm = 0,1467
                        l 262,6 ; y = 0,0281 + 0,00366 x 3,83 ppm = 0,0421
BK-CTM 5 à l 256,7 ; y = -2,2880.10-3 + 0,0389 x 4,80 ppm = 0,1844
                        l 262,6 ; y = 0,0281 + 0,00366 x 4,80  ppm = 0,0457

Bets
Fenilpropanolamin
Klorfeniramin maleat
Kadar (%)
KV (%)
Kadar (%)
KV (%)
1
100,23
0,2383
99,84
0,5289
2
100,21
0,2139
99,59
0,3182
3
99,87
0,4962
99,67
0,3520

FP
Bets 1 à  100,23 % = 15mg x 100,23 / 100 = 15,0345 mg
                                    Difiltrat 4 ml ad 10 ml = 240,552 ppm
Bets 2 à   100,21 % = 15 mg x 100,21 / 100 = 15,0315 mg
                                    Difiltrat 4 ml ad 10 ml = 240,504 ppm
Bets 3 à  99,87 % = 15 mg x 99,87 / 100 = 14,9805 mg
                                    Difiltrat 4 ml ad 10 ml = 239,688
CTM
Bets 1 = 99,84 % = 2 mg x 99,84 / 100 = 1,9968 mg
                        Difiltrat 4 ml ad 10 ml = 31,9488 ppm
Bets 2 = 99,59 % = 2mg x 99,59 / 100 = 1,9918 mg
                        Difiltrat 4 ml ad 10 ml = 31,8688 ppm
Bets 3 = 99,67 % = 2mg x 99,67 / 100 = 1,9934 mg
                        Difiltrat 4 ml ad 10 ml = 31,8944 ppm

256,7 à y = 1,6473.10-3 Xf + 0,0389 Xc + 6,1501.10-3
Bets 1 = 1,6473.10-3 (240,552) + 0,0389 (31,9488) + 6,1501.10-3 = 1,6452
Y =  1,5569.10-3 (240,552) +  0,0366 (31,9488) + 0,0558 = 1,5996



BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

Harga daya serap kedua analit pada :
Panjang gelombang
Fenilpropanolamin HCl
Klorfeniramin maleat
l 256,7 nm
0,9024
0,7136
l 262,6 nm
15,6082
17,4061
Dari hasil tersebut dapat dapat dirumuskan persamaan simultan berdasarkan persamaan 1 dan 2 untuk penentuan konsentrasi analit, yaitu rumus regresi yang dipakai pada jurnal ini tidak sama dengan jurnal praktikum tetapi pada prinsipnya sama menggunakan subtitusi.
A1 – Ad1 = 0,9024 cx + 15,6082 cy
A2 – Ad2 = 0,7136 cx + 17,4061 cy
Dengan A1 dan A2        = serapan total dari campuran fenilpropanolamin HCl dan CTM dalam    sampel pada (lamda 1 dan lamda 2)
Ad1 dan Ad2   = serapan adisi baku pembanding fenilpropanolamin HCl pada (lamda 1 dan 2)
            Cx                   = konsentrasi fenilpropanolamin HCl (ppm)
            Cy                   = konsentrasi klorfeniramin maleat (ppm)
            Pada uji perolehan kembali atau recovery didapatkan hasil untuk fenilpropanolamin HCl 99,93±0,43% dan untuk klorfeniramin maleat 99,76±0,39%. Presisi metode spektrofotometri UV untuk penentuan kadar kedua analit ditunjukkan dengan nilai KV < 2%.






Gambar 1: Spektrum serapan ultraviolet fenilpropanola-min hidroklorida, klorfeniramin maleat,
 dan campurannya dalam pelarut asam klorida 0,1 N, (1) spektrum serapan fe-nilpropanolamin
 hidroklorida, (2) spektrum serapan klor-feniramin maleat, dan (3) spektrum serapan campuran
 fenilpropanolamin hidroklorida dan klorfeniramin maleat.





                                          



Gambar 2 : Kurva stabilitas serapan ultraviolet fenilpropanolamin hidroklorida dengan adisi baku fenilpropanolamin hidroklorida 500 g/ml pada panjang gelombang 256,7 nm (a) dan klorfeniramin maleat pada panjang gelombang 262,6 nm (b).




Tabel 1. Persamaan garis regresi dan koefisien korelasi analit.
l (nm)
Fenilpropanolamin hidroklorida (adisi baku)
Klorfeniramin maleat





                   256,7
                 y = 8,4382.10-3 +  1,6473. 10-3 x
          y = -2,2880.10-3 + 0,0389 x

                 r = 0,9999
          r = 0,9999



262,6
                 y = 0,0277 + 1,5569.10-3 x
         y = 0,0281 + 0,0366 x

                 r = 0,9998
         r = 0,9997









Tabel 2. Kadar dan KV fenilpropanolamin hidroklorida dan klorfeniramin maleat yang ditentukan secara simultan menggunakan metode spektrofotometri

Bets
Fenilpropanolamin hidroklorida
Klorfeniramin maleat


Kadar (%)
KV (%)
Kadar (%)
KV (%)












1
100,23
0,2383
99,84
0,5289


2
100,21
0,2139
99,59
0,3182


3
99,87
0,4962
99,67
0,3250


KESIMPULAN
Penetapan simultan kadar fenilpropanolamin hidroklorida dan klorfeniramin maleat dalam sediaan tablet secara spektrofotometri UV dengan pelarut asam klorida 0,1 N pada panjang gelombang 256,7 nm dan 262,6 nm memberikan rentang konsentrasi yang masih linear terhadap serapan berturut-turut 0–1248,8 µg/ml dan 0–53,2 µg/ml masing-masing untuk fenilpropanolamin hidroklorida dan klorfeniramin maleat. Persentase perolehan kembali untuk fenilpropanolamin hidroklorida dan klorfeniramin maleat berturut-turut, 99,93% ± 0,43% dan 99,76%±0,39%, dengan KV masing-masing yang kurang dari 2%, serta nilai t hitung untuk fenilpropanolamin hidroklorida dan klorfeniramin maleat dari populasi data pada adisi 25% dan 50% yang lebih kecil dari nilai t tabel pada derajat kebebasan 9 dan probabilitas 0,05 (n=10). Hal ini menunjukkan metode yang dikembangkan memiliki akurasi dan presisi yang memadai, sehingga dapat digunakan untuk menetapkan kadar campuran fenilpropanolamin hidroklorida dan klorfeniramin maleat dalam sediaan tablet.







DAFTAR PUSTAKA
1.      Sulistia GG, Rianto S, Frans DS, Purwatyastuti, Nafrialdi. Farmakologi dan terapi. Edisi IV.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1995. hal. 252, 487-93.
2.      Tan HT, Rahardja K. Obat-obat penting. Edisi V. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan; 2002. hal. 115, 773, 765.
3.      Departemen  Kesehatan  Republik  Indonesia. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Direktorat   Jendral  Pengawasan  Obat  dan  Makanan; 1995. hal. 135-36, 293.
4.      United  States  Pharmacopeia  Convention. The United States pharmacopeias 29. The National Formulary 24. Rockville: United States Pharmacopeial Convention Inc; 2006. p. 486,782.
5.      United  States  Pharmacopeia  Convention. The United States pharmacopeias 28. The National Formulary 23. Rockville: United States Pharmacopeial Convention Inc; 2005. p. 448,1545-56.
6.      British Pharmacopeias Commision. British pharmacopoeia Vol I and II. London: Her Majesty’s Stationery Office; 2003. p. 454-5,1471-2.
7.      Moffat AC. Clarke’s isolation and identification of drug. 2nd ed. London: The Pharmaceutical Press; p. 456-7, 895-6.
8.      Roth HJ, Blaschke G. Analisis farmasi. Diterjemahkan  oleh  Kisman  S,  Ibrahim  S. Yogyakarta: Gajah Mada University Press; 1988. hal. 373-9.
9.      Panda  SK,  Sharma  AK.  Simutaneous  s p e c t r o p h o t o m e t r i c e s t i m a t i o n o f phenylpropanolamine HCl, bromhexine HCl, and chlorpheniramine maleate. Indian J of Pharm Sci. 1999.61(2):116-8.
10.  Wade A, Weller PJ. Handbook of pharmaceutical excipients. 2nd ed. London: The Pharmaceutical Press; 1994. p. 84, 280, 424, 483.
11.  Schefler WC. Statistik untuk biologi, farmasi, kedokteran dan ilmu yang bertautan. Diterjemahkan oleh Suroso. Bandung: Penerbit ITB Press; 1987. hal. 71-103.